Friday, December 7, 2007

Seksologi: Masturbasi Karena Istri Hamil

Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kasus:

"Saya seoranq pria, sudah menikah. Sekarang istri sedang hamil tua. Karena itu, hubungan seksual dengan istri sementara saya hentikan. Namun, permasalahan timbul apabila gairah muncul. Kalau melakukan hubungan seks dengan PSK, saya merasa berdosa. Niat itu saya urungkan. Syukurlah, hingga saat ini saya masih bisa mengendalikan diri. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut terpaksa saya melakukan masturbasi, dan kadang-kadang dibantu oleh istri. Pertanyaan saya, apakah ada efek sampingnya terhadap kehidupan seks bila melakukan masturbasi, padahal sudah mempunyai istri? Sampai umur kehamilan berapakah boleh melakukan hubungan seksual, dan apakah tidak ada pengaruhnya terhadap posisi bayi yang sedang dikandung? Setiap kali saya melihat wanita cantik apalagi seksi, seketika itu gairah saya muncul dan ingin melakukan hubungan dengan istri. Apakah ini wajar?"

(S., Balikpapan)

Jawaban:

Dorongan Dikendalikan

Dorongan seksual yang muncul sebenarnya dapat dikendalikan. Jadi, bukan berarti kalau ada dorongan seksual, lalu harus melakukan hubungan seksual.

Ada anggapan salah, bahwa kalau muncul dorongan seksual tetapi tidak dilampiaskan melalul hubungan seksual, dapat menimbulkan akibat buruk bagi kesehatan. Sekali lagi, ini merupakan anggapan yang salah. Justru manusia harus dapat mengendalikan dorongan seksualnya, sehingga dapat mengatur berlangsungnya hubungan seksual.

Kemampuan mengendalikan dorongan seksual sangat diperlukan karena tidak selalu hubungan seksual dapat dilakukan. Dalam keadaan tertentu, ketika pasangan tidak ada atau tidak bersedia melakukan hubungan seksual, dorongan seksual harus dikendalikan.

Dalam keadaan hamil, suami seharusnya memperhatikan keadaan fisik dan psikis istrinya. Kalau dalam keadaan hamil istri menjadi lemah karena beban kehamilannya, apalagi disertai efek samping seperti muntah dan pusing, suami harus mengerti bahwa pada umumnya dorongan seksual istri juga hilang.

Dalam keadaan begini, suami jangan memaksa istri harus melakukan hubungan seksual. Jadi, suami harus menngendalikan dorongan seksualnya.

Kepentingan Berdua

Dalam keadaan hamil tua, biasanya dorongan seksual menurun karena beban kehamilan semakin berat. Meski begitu, sebagian istri masih merasakan dorongan seksual seperti biasa.

Andaikata istri juga menghendaki, hubungan seksual dapat dilakukan dengan mengatur posisi agar tidak menimbulkan tekanan pada bagian perut. Hubungan seksual pada masa hamil tidak akan memengaruhi posisi janin di dalam rahim.

Kalau istri tidak menghendaki, lalu Anda melakukan masturbasi, itu bukanlah masalah, apalagi istri membantu melakukan rangsangan. Tentu saja aktivitas seksual ini jauh lebih baik dan tidak berisiko daripada hubungan seksual dengan PSK.

Lebih jauh, ini juga berarti melindungi istri dan janin di dalam rahim dari akibat buruk yang mungkin timbul akibat hubungan seksual tidak sehat. Tidak ada akibat apa pun karena melakukan masturbasi.

Barangkali perlu saya ingatkan bahwa kehidupan seksual adalah kehidupan bersama pasangan suami istri. Ini berarti dibutuhkan saling pengertian antara suami dan istri untuk kebahagiaan bersama. Jadi, suami jangan hanya memikirkan kepentingan dorongan seksualnya sendiri, melainkan juga perhatikan dorongan seksual istri.

Dorongan seksual dapat muncul bila ada rangsangan seksual yang diterima, baik berupa rangsangan fisik maupun rangsangan psikis. Bila dorongan seksual Anda muncul ketika melihat wanita cantik dan seksi, itu sesuatu yang wajar karena Anda menerima rangsangan secara visual.

Kalau kemudian Anda ingin melakukan hubungan dengan istri, itu juga wajar. Yang tidak wajar bila Anda kemudian ingin melakukan hubungan seksual dengan wanita yang Anda lihat itu. ***

kompas.com

Seksologi: Tidak Terangsang

Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kasus:

"Saya seorang istri berumur 25 tahun, sudah menikah 1,5 tahun lalu. Saya punya masalah, yaitu setiap berhubungan, saya tak merasakan apa-apa. Terkadang vagina saya malah bengkak sehabis berhubungan. Sebelum berhubungan, suami melakukan pemanasan dengan merangsang payudara saya sebentar. Anehnya, sedikit pun saya tidak terangsang. Kami hanya berhubungan seminggu sekali dan suami hanya mampu sekali saja. Setelah dia puas, dia langsung bangkit dan tidur. Yang ingin saya tanyakan, mungkinkah saya bisa hamil jika saya tak pernah orgasme? Di manakah letak bagian sensitif wanita selain di payudara? Mengapa saya tidak bisa mengalami orgasme? Apakah ada kelainan pada diri saya? Menurut dokter ahli kandungan, saya subur. Apakah saya tidak mempunyai sel telur sehingga saya tak bisa hamil? Kapan sih masa subur itu?"

(B., Magelang)

Jawaban:

Dua Masalah

Ada dua masalah yang Anda hadapi. Pertama, gangguan fungsi seksual berupa rasa sakit ketika berhubungan seksual sehingga tidak dapat mencapai orgasme. Kedua, hambatan hamil. Kedua masalah ini tidak berhubungan langsung, tetapi secara tidak langsung ada hubungannya.

Secara langsung tidak ada hubungan antara hambatan mencapai orgasme dengan hambatan hamil. Artinya, Anda tetap mungkin hamil walaupun tidak pernah mencapai orgasme, asal kesuburan Anda dan suami baik.

Di pihak lain, wanita yang selalu mencapai orgasme setiap melakukan hubungan seksual tidak berarti pasti dapat hamil. Bagaimana mungkin hamil kalau terjadi gangguan kesuburan pada suami atau istri.

Namun, secara tidak langsung mungkin ada hubungan antara tidak terjadinya kehamilan dengan rasa sakit yang Anda alami. Kalau setiap melakukan hubungan seksual Anda merasa sakit akhirnya Anda menjadi enggan melakukan hubungan seksual.

Karena hubungan seksual jarang dilakukan, mungkin masa subur terlewati, sehingga kehamilan tidak terjadi.

Daerah Peka Rangsangan

Ada beberapa faktor penyebab hambatan orgasme pada wanita. Pertama, tidak ada komunikasi yang baik dengan pasangan. Kedua, terdapat hambatan psikis.

Ketiga, tidak cukup menerima rangsangan seksual yang efektif. Keempat, posisi hubungan seksual tidak efektif memberikan rangsangan bagi wanita. Kelima, gangguan fungsi seksual di pihak pria.

Bagian tubuh yang peka rangsangan pada wanita, secara umum sama seperti pada pria, dan pada setiap wanita, yaitu bibir, pipi, leher, payudara, dinding perut, paha bagian dalam, kelamin khususnya klitoris dan G spot yang terletak pada vagina sepertiga bagian luar.

Karena proses belajar dan pengalaman seksual, bagian peka rangsangan menjadi tidak tepat sama pada setiap wanita. Boleh jadi suatu bagian tubuh dirasa sangat peka rangsangan, tetapi tidak demikian pada wanita lain.

Hambatan orgasme yang Anda alami dapat disebabkan oleh salah satu atau beberapa faktor di atas. Jadi, belum tentu penyebabnya pada diri Anda sendiri, walaupun Anda yang mengalaminya. Bahkan, penyebab hambatan orgasme pada wanita lebih banyak datang oleh pihak pria, berupa gangguan fungsi seksual, khususnya disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Jadi, untuk mengatasi hambatan orgasme Anda, harus diketahui dulu apa penyebabnya. Kalau penyebabnya ada pada suami, misalnya berupa ejakulasi dini, gangguan suamilah yang harus diatasi.

Kalau Anda tidak merasa terangsang ketika suami melakukan rangsangan pada payudara, mungkin karena dilakukan hanya sebentar atau mungkin karena cara melakukannya tidak benar. Namun, bukan tidak mungkin, karena sesuatu sebab, bagian itu tidak peka rangsangan bagi Anda, misalnya karena hambatan psikis.

Periksa Berdua

Pembengkakan pada kelamin Anda, sangat mungkin terjadi karena Anda tidak mengalami perlendiran vagina sebagai akibat tidak cukup terangsang. Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan semakin lama berlangsung.

Saya sarankan ketidakharmonisan kehidupan seksual dengan suami segera diatasi karena sudah menimbulkan keluhan bagi Anda. Mungkin saja suami tidak tahu apa yang Anda alami. Kalau gangguan itu dibiarkan terus, saya khawatir terjadi akibat buruk bagi kehidupan seksual selanjutnya.

Untuk mengatasi hambatan hamil, Anda dan suami harus mendapat pemeriksaan yang benar. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui keadaan kesuburan Anda dan suami. Di samping itu, juga untuk mengetahui normal tidaknya sistem reproduksi Anda dan suami.

Pada pemeriksaan yang benar hampir selalu diperlukan alat bantu. Dengan alat bantu dapat diketahui keadaan kesuburan Anda dan suami, serta ada tidaknya gangguan pada sistem reproduksi.

Masa subur wanita terjadi 14 hari sebelum menstruasi yang akan datang. Meski demikian, tidàk berarti wanita yang mengalami menstruasi pasti mempunyai masa subur atau mengeluarkan sel telur. ***

kompas.com

Seksologi: Istri Mengeluh

Oleh: Prof.DR.Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kasus:

"Saya pria berumur 25 tahun, telah menikah selama 2 bulan. Saya mempunyai masalah dalam menahan ejakulasi. Pada saat pemanasan saya bisa menahan ejakulasi. Walaupun tidak sering, pernah juga pada saat melakukan pemanasan terjadi ejakulasi. Pada saat penis masuk ke dalam vagina, saya akan dengan cepat kehilangan kontrol. Rasa geli akibat sperma akan keluar begitu memuncak. Akibatnya, penis baru saja masuk ke vagina, saya langsung mengalami ejakulasi. Pada saat itu belum terjadi gerakan penetrasi yang berulang-ulang, tetapi sperma sudah masuk ke dalam vagina. Saya sudah coba, sebelum melakukan hubungan badan, minum obat kuat sejenis jamu berbentuk kapsul, tetapi tidak berpengaruh sama sekali. Saya tetap mengalami ejakulasi dini. Lama-lama saya merasa stres dengan keadaan ini. Saya kasihan terhadap istri. Dia sangat kecewa dan mengeluh, katanya, "Ngotor-ngotorin saja.". Yang ingin saya tanyakan, bagaimana caranya menyembuhkan ejakulasi dini? Apakah perlu minum ramuan jamu atau kapsul, apa ada dampaknya? Apakah ejakulasi dini berpengaruh pada kehamilan mengingat istri saya sampai saat ini juga belum hamil?"

(Ch. Tangerang)

Jawaban:

Bisa Memburuk

Anda tidak sendiri. Banyak pria yang mengalami ejakulasi dini. Masálahnya, apakah ejakulasi dininya tergolong berat, sedang, ataukah ringan. Tentu saja pria yang mengalami ejakulasi dini berat merasa lebih bermasalah dibandingkan pria dengan ejakulasi dini ringan.

Berdasarkan uraian Anda, mungkin Anda mengalami ejakulasi dini yang sedang, walaupun pernah mengalami ejakulasi sebelum terjadi hubungan seksual. Kalau sering terjadi ejakulasi sebelum hubungan seksual berlangsung, itu tergolong ejakulasi dini yang berat.

Saya dapat mengerti kalau Anda merasa stres menghadapi masalah seksual ini. Akibat seperti itu dialami oleh banyak pria dengan ejakulasi dini dan disfungsi seksual yang lain.

Kalau dibiarkan berlangsung lama, ejakulasi dini dapat menimbulkan akibat pada fungsi seksual yang lain. Sering terjadi pria dengan ejakulasi dini kemudian mengalami disfungsi ereksi.

Di pihak pasangan, akibat juga dapat timbul seperti yang dialami oleh istri Anda. Kejengkelan seperti yang diungkap oleh istri Anda merupakan reaksi yang wajar dari ketidakpuasan seksual.

Kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung lama, dapat menimbulkan akibat berupa hilangnya dorongan seksual istri. Bagaimana pun, kini kehidupan seksual Anda dan istri berlangsung tidak harmonis. Ketidakharmonisan ini harus diatasi karena sudah mengganggu Anda dan istri juga.

Tinggalkan Obat Kuat

Cara mengatasi yang benar ialah dengan berkonsultasi lebih dulu dengan tenaga ahli sebelum mendapat pengobatan. Berdasarkan pengalaman menangani disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, pada umumnya ejakulasi dini dapat diatasi dengan baik dengan pengobatan yang benar.

Saya tidak tahu obat kuat apa yang Anda gunakan. Namun, kalau mendengar istilah “obat kuat" saya yakin Anda membelinya begitu saja tanpa berkonsultasi lebih dulu kepada tenaga ahli.

Artinya, tidak ada yang menjamin manfaat dan keamanan bahan yang terkandung di dalam kapsul “obat kuat” itu. Jadi wajar kalau Anda tidak merasakan manfaat apa pun.

Di pasaran memang banyak beredar apa yang disebut “obat kuat”. Dari istilahnya saja sudah jelas bahwa bahan itu bukan produk resmi dari dunia kedokteran. Dengan demikian, tidak ada jaminan manfaat dan keamanan bagi penggunanya.

Sayangnya, banyak warga masyarakat yang tak mengerti kemudian harus membeli sesuatu yang tidak jelas. Anda termasuk salah seorang diantaranya. Saya sarankan Anda berkonsultasi kepada dokter, khususnya ahli andrologi. untuk mendapat pengobatan yang benar.

Periksa ke Ahli

Mengenai istri yang belum hamil, belum tentu berkaitan dengan ejakulasi dini yang Anda alami. Kecuali kalau seringkali Anda mengalami ejakulasi dini berat, sehingga ejakulasi terjadi di luar vagina. Kalau ini yang terjadi, tentu kehamilan tidak terjadi.

Mengingat Anda baru menikah 2 bulan, jangan terlalu khawatir dulu. Kecuali kalau sebelum menikah Anda berdua sudah melakukan hubungan seksual secara teratur selama setahun, kemungkinan gangguan kesuburan perlu dipertimbangkan.

Kemungkinan gangguan kesuburan dapat terjadi pada istri atau pada diri Anda sendiri, yang tidak ada hubungannya dengan ejakulasi dini. Untuk mengetahui keadaan kesuburan, tentu diperlukan pemeriksaan yang benar oleh dokter ahli. ***

kompas.com

Seksologi: Istri Berubah Drastis

Oleh: Prof.DR.Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Setelah 11 tahun menikah, baru tiga bulan belakangan ini istrinya merasakan nikmatnya hubungan seks. Ia terus menuntut untuk dilayani, bahkan sehari sampai 2-3 kali. Normalkah? Bagaimana suami harus bersikap?

Kasus:

"Saya seorang pria, berumur 44 tahun, istri berusia 39 tahun. Sejak tiga bulan terakhir ini saya mengalami masalah karena istri sering menuntut hubungan seks. Setiap hari minta berhubungan. Kadang-kadang bisa 2-3 kali. Sebelumnya dia tidak seperti itu, bahkan tak pernah meminta. Waktu saya tanya mengenai perubahan yang drastis itu, istri menjelaskan bahwa dia baru merasakan nikmatnya hubungan seks sejak sekitar tiga bulan lalu dan seperti ingin terus. Yang jadi masalah, saya tidak mampu kalau harus memenuhi permintaannya itu. Saya pulang sekitar pukul 19.00, sudah capek sekali. Sering saya dibangunkan oleh istri agar melayani dia. Kalau hari libur saya merasa lebih repot, bukannya santai, karena istri menuntut terus sampai 2-3 kali dalam sehari. Kalau saya tidak mampu melayani, dia marah. Dia bilang, sudah lama menikah dan baru tiga bulan belakangan merasakan nikmatnya hubungan seks tetapi suami tidak mampu. Yang ingin saya tanyakan, apakah istri mengalami kelainan seks? Apakah benar yang disampaikan istri, bahwa ia baru dapat merasakan nikmatnya hubungan seks sejak tiga bulan lalu, padahal kami sudah 11 tahun menikah? Apa yang harus saya lakukan menghadapi masalah ini? Saya takut istri berbuat yang tidak-tidak."

(A., Semarang)

Jawaban:

Sangat Wajar

Sebenarnya apa yang dialami istri Anda bukan sesuatu yang aneh. Pengakuannya bahwa dia baru dapat menikmati hubungan seksual sejak tiga bulan lalu, bukan sesuatu yang luar biasa atau mengejutkan.

Tidak sedikit istri yang tak pernah menikmati hubungan seksual, walaupun telah lama menikah. Jadi, sebenarnya Anda tidak perlu merasa terkejut dengan pengakuan itu.

Keterkejutan Anda timbul karena selama menikah Anda tidak pernah berkomunikasi mengenai seks, sehingga tidak mengetahui bahwa istri sebenarnya tidak menikmati hubungan seksual yang dilakukan.

Sebaliknya, Anda harus bersyukur karena istri yang Anda kasihi akhirnya dapat juga menikmati kehidupan seksual, yang selama bertahun-tahun menikah hanya Anda nikmati sendiri.

Kalau setelah dapat menikmati hubungan seksual kemudian istri menjadi ingin sering melakukan, itu sesuatu yang wajar juga. Sangat manusiawi bila orang ingin mengulangi apa yang dirasakan menyenangkan termasuk dalam berhubungan seksual.

Demikian juga kalau istri ingin melakukan setiap hari, bahkan sampai beberapa kali. Jadi, tidak ada alasan menganggap atau merasa khawatir istri mengalami suatu kelainan seksual.

Harus Berupaya

Masalah muncul karena Anda tidak selalu mampu memenuhi tuntutan istri. Ketidakmampuan Anda mudah dimengerti karena secara fisik Anda mengalami hambatan, yaitu rasa letih setelah bekerja sehari penuh, selain kemunduran yang biasanya muncul pada usia pertengahan. Tentu saja harus ada upaya agar kesenjangan ini tidak menimbulkan akibat buruk bagi Anda dan istri.

Upaya yang dapat Anda lakukan bertujuan agar mampu memenuhi tuntutan istri. Menjaga keadaan fisik dengan melakukan olahraga teratur perlu Anda lakukan, disamping asupan nutrisi yang cukup. Bila perlu, gunakan obat untuk membantu meningkatkan fungsi seksual.

Tentu saja semua upaya tersebut harus Anda lakukan dengan dilandasi rasa cinta terhadap istri, yang belum lama dapat menikmati kehidupan seksual, setelah sekian lama menikah.

Saya yakin dengan berjalannya waktu, frekuensi melakukan hubungan seksual yang dituntut istri akan menjadi lebih jarang. Dengan demikian, kesenjangan akan semakin kecil. ***

kompas.com

Pria dan Seks



Konon, benak lelaki selalu dipenuhi seks. Jauh berlipat-lipat ketimbang yang ada di benak perempuan. Benarkah?

1. Titik Favorit

Secara fisik, lelaki memang berbeda dari perempuan. Perbedaan inilah yang menimbulkan penasaran. Nah, menurut bapak psikoanalisis, Freud, bagian tubuh perempuan yang paling disukai lelaki adalah payudara. Secara estetika, lelaki menyukai payudara karena bentuknya yang menonjol dan indah.

Namun, sebenarnya kesukaan lelaki terhadap payudara terkait dengan benang merah keberadaannya sebagai manusia. Ia tumbuh karena disusui payudara ibunya. Selama menyusu, ia tidak hanya mengisap air susu untuk kelangsungan hidupnya, tapi juga memuaskan libidonya yang baru tumbuh. Itu sebabnya, setelah dewasa payudara tetap jadi sentral perhatian lelaki.

2. Apa yang Diinginkannya dari Seks?

Sederhana saja. Melepaskan ketegangan dengan orgasme. Lelaki akan memanfaatkan seks untuk mengungkap apa yang secara fisik atau emosional tidak dapat mereka ungkapkan. Saat lelaki menghadapi masalah, ia akan memanfaatkan seks untuk menghidupkan kembali intensitas emosinya. Memang seks tidak selalu memecahkan masalah, namun lelaki yang kebutuhan seks nya tidak terlampiaskan akan mengalami kesulitan mendengar dan berfikir.

3. Gemar Pornografi

Mengapa lelaki menyukai pornografi? Karena pornografi menarik hasrat biologis mereka. Pornografi memperlihatkan gambar bentuk secara jelas dan ini bisa membangkitkan nafsu seksual lelaki. Namun secara psikologis, pornografi bisa merusak lelaki. ini dibuktikan hasil survei di Amerika, 50% lelaki merasa kehidupan seksual mereka tidak sebaik yang digambarkan dalam film, TV, dan majalah. Nah,lho!

4. Rahasia Testoteron

Pada kaum lelaki, hormon testosteron yang dikaitkan dengan agresi, mencapai puncaknya setiap 24 jam. Nah, pada pagi hari kadar testosteron lelaki paling tinggi. Ini menjelaskan apa yang sering disebut dengan istilah "serangan fajar" pada pasangan yang baru menikah.

Makin bertambah jam, kadar hormon ini makin menurun dan mencapai titik terendah pada malam hari. Namun di malam hari hormon oksitosin yang juga dikenal sebagai hormon hubungan mencapai kadar tertinggi. Hasilnya, lelaki merasa lebih rileks dan penuh kasih sayang pada saat ini.

5. Libido Tinggi

Memang lelaki memiliki gairah seks yang lebih tinggi dari perempuan. Proses ovulasi secara alami telah menciptakan kaum lelaki sebagai penabur benih ulung untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Itu sebabnya lelaki dibekali motivasi dan dorongan kuat untuk menaburkan benihnya. Disini, hormon testosteron berperan sebagai sumber sifat agresif dan libido.

6. Pertunjukan Solo

Menurut penelitian, 80-95% lelaki normal sering masturbasi. Bahkan ada yang melakukannya tiap hari dan ini bukan monopoli lelaki lajang saja. Lelaki menikah pun masih banyak yang mengaku melakukannya. Yang melegakan, aksi solo ini ternyata tak melulu berkaitan dengan seks. Kadang-kadang lelaki melakukannya karena sedang bosan atau stress.

7. Fantasi Teman Kerja

Sebuah survey di Amerika menunjukkan 54% lelaki sering memikirkan seks setiap hari, bahkan bisa beberapa kali sehari. Yang menarik sekaligus mengagetkan, objek fantasi seksual favorit mereka adalah rekan kerja perempuan di kantor. Mmmmm....

8. Otak Seks

Pusat seks manusia ada di bagian otak yang disebut hypothalamus. Ini merupakan bagian dari otak yang juga ikut mengendalikan emosi, detak jantung dan tekanan darah. Ukurannya kira-kira sebesar buah cherry dan memiliki berat sekitar 4,5 gram.

Nah, umumnya pada otak lelaki ukuran ini lebih besar. Di sinilah hormon terutama testosteron berperan merangsang gairah hubungan seksual. Dengan mempertimbangkan bahwa lelaki mempunyai 10-20 kali lipat hormon testosteron lebih banyak dan hypotalamus lebih besar, tidak heran jika nafsu seksual lelaki pun besar.

9. Diam Saat Bercinta

Mengapa lelaki tak bicara saat bercinta? Jawabannya, karena kebanyakan lelaki hanya bisa melakukan satu hal dalam satu waktu. Ketika mengalami ereksi, ia akan sulit bicara, mendengar, atau berpikir. Inilah alasannya mengapa lelaki nyaris tidak berbicara saat melakukan hubungan seks.

10. Tertidur Usai Bercinta

Setelah melakukan hubungan seks, berat tubuh lelaki menurun. Bagaimana tidak? Dalam satu sesi saja, kurang lebih 200 kalori terbakar. Ini sama dengan 25 menit berolah raga atau setengah jam jogging. Karena kehilangan banyak tenaga dan butuh waktu untuk memulihkannya, lelaki pun sering tertidur pulas usai bercinta.


Sumber: Chic
kompas.com

Seks Bukan Hanya untuk Suami

Konsultasi dengan Prof.Dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

"Saya seorang wanita, sudah setahun menikah, dan punya masalah disfungsi seksual. Masalahnya, saya tidak merasakan excitement selama ini jika ’kumpul’ sama suami. Sensasi hebat, rasa nikmat yang selama ini saya baca dari buku-buku, sama sekali tidak saya rasakan.

Sebenarnya sudah bisa menikah dengan orang yang saya cintai saja saya sudah bahagia. Kalaupun saya tetap ’mati rasa’ seumur hidup, rasanya juga saya tidak apa-apa, pokoknya niat menikah untuk ibadah. Saya sudah cukup bahagia bisa berdekatan dengan suami. Selama ini, itulah kenikmatan yang saya rasakan.

Masalahnya, tanpa punya sensasi yang selama ini saya pikirkan, saya jadi nggak bisa punya drive untuk menyenangkan suami. Saya tidak punya feeling harus merespons bagaimana dan harus berbuat apa untuk mencapai kondisi maksimal atau paling tidak membuat suami saya sangat sangat puas. Kalau ditanya berapa lama lagi saya bisa mencapai puncak, rasanya bagaimana, wah saya tidak bisa ngomong apa-apa.

Saya tidak tahu apa nama penyakit saya ini, dan harus ditangani bagaimana, dan apakah bisa diobati. Kalau dibilang frigid, rasanya terlalu ekstrem juga, soalnya saya bukannya 100 persen mati rasa. Saya masih bisa ’on’ kalau disentuh, dan mengalami mungkin tahap awal dan grafik kenikmatannya menaik. Namun, memuncaknya (yang pasti saya tahu itu bukan orgasme) di saat awal penetrasi.

Buat orang lain mungkin awal penetrasi adalah "when the ecstasy starts working", tetapi buat saya, awal penetrasi justru ’when the joy ends’. Bagaimana mengatasi masalah saya ini?
L.L., Cirebon

Mengganggu Perkawinan
Sebelum saya mencoba menjelaskan apa yang mungkin terjadi pada diri Anda, saya tertarik pada pernyataan Anda, "kalaupun saya tetap mati rasa seumur hidup, rasanya juga saya tidak apa-apa, pokoknya niat menikah untuk ibadah".

Tentu saja terserah setiap orang, termasuk Anda, untuk memaknai arti kehidupan seksual di dalam perkawinan. Mungkin Anda beranggapan tidak masalah Anda mati rasa selamanya karena mungkin Anda hanya akan berfungsi melayani suami dan melahirkan. Namun, saya pikir justru anggapan seperti itulah yang semakin memperburuk masalah yang kini Anda alami.

Masalahnya, kehidupan seksual di dalam perkawinan adalah kehidupan bersama suami istri. Sebagai dua individu yang bersepakat menjadi satu, pasangan harus membangun kehidupannya agar harmonis dan bahagia, termasuk kehidupan seksual.

Kalau kehidupan seksual tidak harmonis, salah satu aspek dalam perkawinan menjadi terganggu. Karena itu, banyak perkawinan yang terganggu keutuhannya akibat kehidupan seksual yang tidak harmonis, disadari atau tidak oleh yang bersangkutan.

Tidak Ada Frigid
Kalau Anda merasa tidak tahu bagaimana harus merespons aksi seksual suami, tentu itu disebabkan Anda sendiri tidak mengalami reaksi seksual. Berdasarkan uraian Anda saya hanya dapat menduga gangguan fungsi seksual apa yang Anda alami.

Mungkin Anda mengalami hambatan bangkitan seksual, sehingga perlendiran vagina dan ereksi klitoris tidak berlangsung normal. Sebagai akibatnya, orgasme Anda terhambat. Kemungkinan lain, Anda memang mengalami hambatan orgasme, sedangkan bangkitan seksual normal.

Untuk memastikan, tentu diperlukan evaluasi dan pemeriksaan yang benar oleh ahli seksologi. Langkah pertama harus diketahui jenis gangguan fungsi seksual apa yang Anda alami. Setelah itu harus dicari apa penyebabnya, dan barulah dapat ditentukan pengobatannya. Bukan tidak mungkin penyebab gangguan fungsi seksual ada di pihak suami, bukan Anda.

Yang pasti, secara ilmu pengetahuan, tidak ada gangguan fungsi seksual yang disebut ’frigid’. Dalam klasifikasi terkini disfungsi seksual wanita, istilah ini tidak dikenal. Andaikata masih ada media atau buku atau penjelasan dari siapa pun yang menggunakan istilah itu, berarti tidak mengikuti perkembangan ilmu seksologi.

Jadi saya harap Anda tidak terganggu oleh informasi yang salah tentang disfungsi seksual. Saya sarankan Anda tidak membiarkan masalah ini berlangsung lebih lama karena dapat menimbulkan akibat buruk. @


Sumber: Gaya Hidup Sehat
kompas.com

Orgasme Berkali-Kali? Oke Banget!

Konsultasi dengan Prof.Dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

Saya seorang wanita, umur 47 tahun, suami berusia 55 tahun. Kami cukup bahagia selama menikah 21 tahun. Masalah seks pada umumnya tidak ada yang serius. Masalahnya, sejak sekitar tiga tahun ini saya merasa ada perubahan.

Rasanya gairah seks saya meningkat dibandingkan dulu. Sejak tiga tahun lalu, kalau melakukan hubungan suami istri, saya belum merasa puas kalau cuma sekali merasakan kenikmatan. Saya ingin merasakan nikmat berkali-kali, dan kadang-kadang bisa sampai lima kali. Kalau tidak bisa berkali-kali, saya merasa kurang puas.

Suami merasa heran, kok saya berubah begini. Mula-mula dia tidak bisa menerima saya berubah, tetapi akhirnya terbiasa juga. Sayangnya suami tidak selalu bisa melayani saya supaya saya bisa nikmat berkali-kali. Sering dia tidak bisa bertahan lama, dan untuk menunggu sampai mampu lagi, waktunya lama, sementara saya sudah malas.

Yang saya tanyakan, mengapa saya mengalami perubahan itu? Mengapa dulu tidak begitu? Mengapa justru setelah usia tidak muda lagi saya baru bisa mengalaminya? Apakah saya normal kalau saya seperti ketagihan ingin nikmat berkali-kali? Bagaimana caranya agar suami bisa melayani saya supaya saya terus bisa nikmat berkali-kali?
N.R., Semarang

Tergantung Pasangan
Pada dasarnya wanita mempunyai kemampuan mencapai orgasme lebih dari sekali. Namun, tidak semua wanita mengalaminya karena sangat tergantung kepada rangsangan seksual yang diterima ketika melakukan hubungan seksual.

Kalau setelah orgasme hubungan seksual terus berlangsung, yang berarti wanita masih menerima rangsangan seksual yang cukup, orgasme yang berikutnya dapat terjadi lagi. Dengan demikian, dapat tidaknya orgasme terjadi berkali-kali sangat tergantung pada seberapa lama wanita menerima rangsangan yang efetif ketika melakukan hubungan seksual.

Kalau hubungan seksual tetap berlangsung setelah mencapai orgasme yang pertama, orgasme berikutnya dapat terjadi. Artinya, dapat tidaknya orgasme berkali-kali dicapai oleh wanita, sangat tergantung kepada fungsi seksual pasangannya.

Jadi ini sesuai dengan pengalaman Anda, yang tidak selalu dapat mencapai orgasme berkali-kali, karena suami "sering tidak bisa bertahan lama". Ada dua kemungkinan mengapa baru sejak tiga tahun yang lalu Anda merasakan orgasme berkali-kali, sedangkan dulu tidak.

Pertama, mungkin pengalaman seksual tanpa disadari telah mengajarkan Anda untuk menerima rangsangan seksual yang efektif, misalnya melalui pengaturan posisi dan gerakan tubuh. Kedua, mungkin fungsi seksual suami lebih baik, khususnya yang berkaitan dengan lamanya terjadi ejakulasi (keluarnya sperma) dan kualitas ereksi, walaupun suami masih "sering tidak bisa bertahan lama".

Karena Menyenangkan
Walaupun usia Anda tidak tergolong muda, bukan berarti Anda harus tidak mampu melakukan dan menikmati kehidupan seksual. Kalau keadaan kesehatan Anda baik dan keadaan psikis juga baik, didukung oleh fungsi seksual suami yang baik pula, fungsi seksual wanita juga baik.

Kalau kini Anda seperti ketagihan ingin selalu mencapai orgasme berkali-kali, saya pikir itu normal saja. Pada dasarnya manusia ingin selalu mengulang apa yang dirasakan menyenangkan, termasuk dalam hal orgasme. Masalahnya, Anda tidak selalu dapat merasakan orgasme multipel itu, terutama karena suami sering tidak dapat mengendalikan ejakulasinya.

Seperti telah saya jelaskan di atas, orgasme multipel pada wanita sangat ditentukan oleh fungsi seksual pasangannya. Jadi dengan meningkatkan fungsi seksual suami, khususnya yang berkaitan dengan kontrol ejakulasi dan kualitas ereksi, Anda akan dapat lebih mudah mencapai orgasme multipel. Selain itu, pengaturan posisi hubungan seksual ikut menentukan karena memungkinkan wanita dapat menerima rangsangan yang lebih efektif.


Sumber: Gaya Hidup Sehat
diambil dari kompas.com

4 Posisi Ideal Mencapai Orgasme

Masih ingat istilah yang berlaku di kalangan anak sekolah, "posisi menentukan prestasi?", dalam hubungan seks ternyata berlaku istilah serupa, yakni, "posisi menentukan kepuasan". Lalu posisi seperti apa saja yang bisa memacu seorang wanita untuk mencapai orgasme? Penulis buku Female Ejaculation and the G-Spot, Deborah Sundahl, menyarankan untuk mencoba empat posisi berikut:

Modifikasi posisi missionari
Anda mungkin sudah mencoba posisi standar missionari position sebelumnya. Sayangnya dengan posisi pria di atas ini kita akan lebih sulit mencapai orgasme, karena pada posisi ini pria yang memegang kendali.

Lakukan sedikit modifikasi dalam melakukan posisi ini. Berbaringlah terlentang dan letakkan kedua kaki di pundak pasangan. Dengan posisi ini, klitoris akan lebih mudah terstimulasi, hingga akhirnya mencapai orgasme. Selain itu si dia juga akan leluasa mengeksplorasi bagian G-Spot Anda, dan rasakan sendiri sensasinya.

Lidah dan Tangan, Yummy..
Banyak wanita yang mengaku lebih mudah mencapai orgasme lewat seks oral daripada lewat penetrasi. Tuntun si dia untuk "mendaya gunakan" lidahnya agar kepuasan seksual Anda tercapai.

Selain daerah klitoris, mintalah si dia untuk mengeksplorasi bagian-bagian di sekitarnya, seperti saluran uretha dan vagina dengan lidahnya. Lakukan perlahan, sehingga Anda bisa lebih rileks dan lebih lama merasakan sensasinya. Ketika Anda merasa sangat terangsang, minta si dia untuk memasukkan jarinya dengan lembut sambil menyentuh bagian G-Spot. Rangsangan-rangsangan tersebut akan membuat Anda siap merasakan orgasme.

Duduk dan berdiri
Jangan lupakan kontak mata dengan pasangan saat melakukan hubungan intim. Agar lebih leluasa menatap wajahnya, cobalah sesekali bercinta dengan posisi Anda duduk dan ia berdiri. Jika memungkinkan gunakan bangku tinggi atau duduk di bibir meja. Posisi ini sangat cocok untuk melakukan penetrasi dalam dan stimulasi yang intens pada bagian G-Spot. Selain kontak mata, Anda berdua juga lebih mudah untuk berkomunikasi.

Berdiri dari belakang
Posisi ini agak sedikit sama dengan posisi terkenal "doggy style", yakni penetrasi dilakukan dari belakang. Namun jika posisinya diubah dengan berdiri, Anda akan merasakan sensasi yang lebih besar dari posisi doggy style. Gerakan pasangan akan mendorong langsung mengenai bagian G-Spot, dan stimulasi seperti itu yang sebenarnya Anda butuhkan.

Sedikit tips untuk posisi ini, sebelum penetrasi sebaiknya bagian G-Spot sudah dirangsang sebelumnya. Komunikasikan pada pasangan jika gerakannya terlalu pelan atau terlalu cepat. Si dia mungkin perlu mengetahui titik mana yang paling sentitif, jadi jangan tutup mulut Anda...

Penulis: An
diambil dari kompas.com

Rahasia Mencapai Puncak Kepuasan




Apakah kehidupan ranjang Anda terasa "dingin" karena sudah mencoba berbagai posisi tapi tak pernah mendapat kepuasan apalagi orgasme? Mungkin itu karena Anda belum mengetahui rahasia berikut ini:

1. Hangat-hangat merangsang
Untuk bisa menikmati seks secara maksimal, tubuh perlu dibuat rileks, cara yang paling efektif adalah mandi dengan air hangat sebelum bermesraan di ranjang. Jika tak cukup waktu, basuh bagian organ intim Anda dengan handuk hangat.

Sensasi hangatnya akan melancarkan aliran darah ke bagian vagina, sehingga bagian tersebut akan lebih sensitif terhadap rangsangan. Mau yang hangat lainnya? Segelas susu hangat sebelum acara bercinta merupakan makanan pembangkit gairah resep nenek moyang yang layak dicoba.


2. Ikut kompetisi
Mungkin kening Anda berkerut memikirkan kaitan antara kompetisi dengan kepuasan seksual. Namun menurut sebuah studi yang dilansir dalam jurnal Evolution and Human Behavior, mengikuti sebuah kompetisi, baik itu olahraga atau permainan lain, akan meningkatkan hormon testosteron pada wanita hingga 24 persen. Peningkatan hormon ini sekaligus juga meningkatkan libido Anda.

3. Time is matter
Dua hari sebelum masa menstruasi, kadar hormon testoteron Anda akan meningkat, libido bergejolak dan bagian payudara serta klitoris menjaid ultra sensitif. Demikian menurut Gabrielle Lichterman, penulis buku 28 Days, Guide to Your Menstrual Cycle. Pada masa ini, biasanya wanita lebih mudah mencapai orgasme, bahkan multiple O.

4. Woman on top
Posisi ini merupakan posisi "ideal" yang memudahkan seorang wanita mencapai orgasme. Selain bisa mengukur kenyamanan dirinya, posisi ini juga merangsang bagian dalam vagina sekaligus klitoris sehingga sensasi yang dirasakan jadi ganda.

Ada dua posisi yang bisa dicoba, pertama wajah menghadap pasangan, atau memunggungi pasangan (posisi angsa liar terbang mundur). Untuk meningkatkan rangsangan, minta pasangan untuk membelai payudara dan klitoris Anda.

5. Cari tahu titik sensitif
Kebanyakan pria tidak paham bagian mana saja yang merupakan zona erotis pada tubuh wanita. Karenanya, Anda perlu mengetahui titik-titik sensitif tubuh agar Anda bisa menuntun suami menjelajahi setiap lekuk tubuh tersebut. Selain daerah vagina, area lain yang perlu dieksplorasi antara lain paha bagian dalam, punggung, payudara, bibir, hingga leher.

Penulis: An
kompas.com

Penentu Gairah Bercinta


Penentu Gairah Bercinta


1. Hormon testosteron

Hormon testosteron adalah hormon yang berperan penting dalam merangsang nafsu seks. Pria maupun wanita sama-sama memiliki hormon ini. Hanya saja kadarnya tidak sama persis dan inilah yang memengaruhi dorongan seks yang bersangkutan.

2. Kondisi kesehatan

Kondisi tubuh yang tidak prima atau kurang bugar umumnya dapat menyebabkan menurunnya dorongan seksual. Belum lagi penyakit tertentu yang dapat memengaruhi berkurangnya kadar hormon testosteron. Gangguan fungsi testis, keracunan, tumor, diabetes melitus dan sebagainya, bisa memengaruhi produksi hormon testosteron.

3. Faktor psikis

Kondisi kejiwaan seseorang, semisal sedang menghadapi masalah pelik di kantor atau persoalan serius dengan kerabat, disadari atau tidak pasti akan menyurutkan dorongan seksual seseorang. Meski tidak sedikit pula yang saat mengalami stres justru dorongan seksnya meningkat.

4. Rangsangan seksual

Semakin terangsang, seseorang akan semakin aktif pula menyalurkan dorongan seksualnya dalam bentuk nyata. Nah, agar pasangan sama-sama siap tempur, ada baik bila masing-masing terus berusaha mengeksplor titik-titik rangsang pada tubuh pasangannya. (Nakita)

diambil dari kompas.com

Tuesday, March 20, 2007

Contraception

Men's Sexual Health: Contraception

Contraception Introduction:
Contraceptive methods are what couples use to prevent a pregnancy. Some of these methods, like the male and female condoms, also provide very effective protection against most sexually transmitted infections. When the goal is to avoid a pregnancy, couples need to talk together about what method is best for both partners. Issues include access to the method, the cost of the method and whether it is covered by insurance, how it is used, and whether it involves introducing a chemical into the body rather than placing some kind of a barrier between the partners. The vast majority of birth control methods in the world today are designed for the female to use. At the same time, however, male partners need to be active parts of discussions and decisions about contraception – and to be willing to use condoms for safer sex and pregnancy prevention.

Contraception Articles:

Do Teens Tell Their Parents They Are Using Birth Control?

Roughly one in five teenagers would have unsafe sex if their parents had to be notified before they could receive prescription birth control at a family planning clinic, according to new data being published in the January 19 issue of the Journal of the American Medical Association. In the nationwide study of adolescents attending family planning clinics, three in five (60%) young women younger than 18 said their parents knew they used a clinic for sexual health services-typically because they had told parents themselves or their parents had suggested it. But a law requiring that their parents be notified would lead a significant proportion (18%) to have sex using no contraceptive method or to rely on rhythm or withdrawal, thus increasing their risk for unintended pregnancies and sexually transmitted infections. Only 1% indicated that their only reaction would be to stop having sex.

"Parents and policymakers will be glad to know that teens are talking with their parents about sex and birth control. At the same time, these findings are a warning that forcing parental involvement in these issues could backfire, driving young people to have unprotected sex and putting their health and lives at risk," says Rachel Jones, PhD, senior research associate at The Alan Guttmacher Institute and lead author of the study.

Researchers surveyed more than 1,500 young women younger than 18 who were seeking sexual health services, including contraceptives, at family planning clinics in 33 states. A majority-primarily those whose parents already knew they were at the clinic-said they would continue to seek contraceptive services if parental notification were required. However, among teens who had not already discussed their visit with parents, 70% said that they would stop coming to the clinic, and a quarter said they would have unsafe sex.

Today, Texas, Utah and one county in Illinois require parental consent for at least some family planning services paid for with state funds, while several other states-including Kentucky, Minnesota and Virginia-have considered more wide-reaching proposals to mandate parental consent for contraceptives in their most recent legislative sessions. Legislation introduced in Congress in each of the last few years would require parental involvement across the country for adolescents to obtain contraceptives, and would thus overturn the guarantee of confidentiality for those seeking care at facilities funded through Title X, the federal family planning program.

The question of how teenagers would respond to such requirements is of particular interest to public health researchers, given the high numbers of unintended pregnancies and sexually transmitted infections in the United States. Although the rate of teen pregnancy has dropped over the last decade, The Alan Guttmacher Institute estimates that nearly 850,000 teenagers still get pregnant each year-and the vast majority of these pregnancies are unintended. Nationwide, roughly half of all unintended pregnancies occur among the small proportion of women who are not using any form of birth control. Teenagers also remain at relatively high risk for sexually transmitted infections, accounting for approximately four million new cases each year, despite recent trends showing declines in teen sexual activity and increases in the use of condoms and other contraceptives among those who are sexually active. These new findings suggest that laws mandating parental involvement in contraceptive use would only exacerbate these problems.

Source: www.guttmacherinstitute.org